Selasa, 20 Desember 2011

penyebaran hiv/aids di bandung meningkat pesat

Bandung (bogor Online) – Meningkatnya jumlah penderita HIV dan AIDS khususnya di Jawa Barat ternyata membuat prihatin berbagai kalangan. Bahkan, para Mubaligh kota Bandung pun mengaku terkejut dengan meningkatnya masyarakat yang terjangkit virus yang mematikan itu. Untuk mengantisipasi persoalan itu, Forum Komunikasi Mubaligh Kota Bandung melakukan Lokakarya untuk menyoroti persoalan tadi.
“Terus terang kami sangat prihatin atas perkembangan penyakit yang mematikan tadi. Mubaligh perlu ikut andil dalam mengatasi persoalan tersebut supaya masyarakat tak menjadi resah,” kata Ketua Forum, KH. Drs. Jujun Junaedi, M.Ag, Kamis.
Di tengah-tengah Lokakarya, Jujun menegaskan, saat ini peran mubaligh terhadap penanggulangan HIV dan AIDS khusunya di Kota Bandung sangat kecil, bahkan bisa disebut hilang kepeduliannya. Untuk itu, melalui lokarkarya ini forum mengundang mubaligh muda dan calon mubaligh untuk ikut duduk bareng memecahkan persoalan yang kini HIV yang sudah meresahkan masyarakat. “ Kami selaku ketua forom akan terus menyemangi mubaligh muda supaya turun tangan membantu masyarakat. Dan melalui loka karya ini sudah terbentuk kebulatan tekad Mubaligh dalam mebangun kepedulian terhadap penderita virus yang mematikan,”.
Jujun sendiri mengakui, pemerintah secara terus menerus melakukan berbagai kegiatan untuk mengantisipasi persoalan tersebut. Berbagai cara ditempuh, termasuk adanya pasar kondom yang bebas dan mudah dibeli. Dan ini merupakan upaya menanggulangi atau meminimalisasi berkembangnya virus tadi. “ Kondom bisa dibeli secara bebas bukan berarti pemerintah menghalalkan hubungan atau seks bebas. Kita harus mendukung dan berfikiran poditif,” tandasnya. Olehkarenya, melalui lokakarya, tercetus kesepkatan bahwa Mubaligh muda kota Bandung siap turun melakukan kegiatan social demi kemaslahatan ummat.
TEMUKAN OBAT HIV/AIDS
Dr. Ahmad Sarbini, M.Ag, Pembantu Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati, dalam paparannya menegaskan, mubaligh muda sangat dibutuhkan perannya dalam mengantasi dan mengantisipasi persoalan HIV dan AIDS. Dengan adanya data yang menunjukan di Jabar tercatat 3000 lebih yang terjangkit virus mematikan ini menunjukan persoalan serius. “ Mubaligh harus berperan serius untuk membantu mengatasi persoalan ini. Peran mubaligh sangat dinantikan supaya ujmmat mengatahui bahayanya virus itu termasuk mengatahui cara pencegahannya,”.
Diutarakan Sarbini, dalam memandang HIV dan AIDS mubaligh harus senantiasa bertindak adil, dan tidak boleh melakukan ‘penghukuman’ kepada siapapun yang mengidap virus HIV/AIDS. Allah, lanjutnya, memuliakan manusia itu bukan saat hidup saja melainkan sejak bayi hingga meninggal dunia. Mubaligh, lanjutnya harus memuliakan siapapun orang yang terkena HIV AIDS. “ Kita tetap harus memuliakan mereka, jika orang itu memiliki dosa itu urusan yang bersangkutan dengan Allah,”.
Memuliakan mereka, paparnya, mubaligh harus berani mengambil langkah mengobasti mereka melalui suntikan nilai-nilai agama. “ Dengan cara itu Saya berkeyakinan, mubaligh muda lambat laun akan menemukan obat penangkal HIV/AIDS yang hingga kini belum berhasil ditemukan. Kita harus yakin Allah menciptakan suatu penyakit sudah bareng tentu dibarengi dengan obatnya.

Kamis, 15 Desember 2011

ironi kesehatan bagi rakyat kecil

IRONI JAMPERSAL …..BAGI RAKYAT MISKIN…
Berikut adalah dialektika yang menggelitik antara ibu hamil yang segera melahirkan anak ketujuh dengan petugas kesehatan yang kebetulan seorang bidan..
Bidan : Bu ini anak ke berapa ?
Bumil : Anak ke tujuh bu…
Bidan : Lho sudah anak ketujuh ? Anaknya yang ke enam umur berapa ? apa tidak KB bu ?
Bumil : iya bu anak ke tujuh, anak saya yang kecil umur setahun, tidak KB bu.
Bidan : Anak baru setahun sudah mau di kasih adik , kakak-kakaknya juga berjarak setahun begini ? ya bapaknya di paksa tho ya suruh KB, nanti kalau susah membiayai kan ibu juga ikut merasakan ? ini resikonya tinggi lho bu, besok KB ya..
Bumil : Lha iya bu jaraknya setahun-setahun. Ndak bu bapaknya tidak mau, rizki kan yang ngasih allah, iya bu paham resikonya tapi kan masih ada jampersal dan jamkesmas bu…
Bidan : Waduh….(dalam hati)
Memang ini bukan sebuah hasil penelitian, yang melalui sample dan sampling dengan jumlah tertentu dan area tertentu. Tetapi setidaknya sedikit memberikan gambaran bahwa masyarakat miskin memiliki persoalan yang begitu komplek untuk dibantu, bukan sekedar persolan pemberian pelayan kesehatan dan pendidikan gratis. Kebijakan yang salah terkadang justru menjadi bumerang bagi pemerintah sendiri.  Fenomena ini juga menjadi relevan untuk membahas pernyataan Pak Usman Sumantri Kepala Pusat Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan, saat diskusi dengan wartawan, di Gedung Kementerian Kesehatan menjadi relefan untuk di angkat ulang. Di kesempatan konferensi pers saat diskusi dengan wartawan, di Gedung Kementerian Kesehatan beberapa bulan lalu. Sebagaimana kita ketahui bahwa program Jampersal digunakan untuk menekan Tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia masih menjadi persoalan, dan sebagian besar terjadi saat persalinan. Dengan kebijakan baru dari pemerintah yakni Jaminan Persalinan (Jampersal), diharapkan angka kematian ibu dan anak dapat diturunkan. Tetapi yang menarik lagi untuk di teliti dan angkat adalah korelasinya terhadap penambahan jumlah penduduk. Jangan-jangan program ini malah kemudian membuat ledakan penduduk ? Kalau terjadi ledakan penduduk implikasinya bias ke tersedianya makanan, pekerjaan, mauapun kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.